Festival Kegelapan dan Pesan Perdamaian Poso

Baku tembak di Poso, satu polisi dan dua tersangka teroris tewas,” walaupun kejadiannya sudah beberapa waktu yang lalu, kalimat itu masih menghiasi halaman berbagai media online yang saya baca saat menunggu pesawat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pagi itu (1 Mei) saya akan ke Poso, ada perasaan sedikit was-was ketika membaca berita-berita tersebut. Poso memang sedang waspada, beberapa daerah sedang menjadi target Operasi Tinombela dalam rangka perburuan teroris kelompok Santoso. Teringat beberapa teman yang sempat tidak percaya saat mengetahui saya akan berangkat ke Poso, bahkan ada yang melarang. “Kamu serius mau ke Poso? Coba googling deh, banyak teroris disana!” ujar Ahmad Maulida, sehari sebelum saya berangkat kemarin. “Iya, Poso aman kok, saya yakin itu. Pasti banyak orang baik disana,” saya menjawab sekedarnya, sambil mengemas barang bawaan.

“Mas Vifick ya?” seorang pria berseragam PNS memanggil saya ketika keluar dari Bandara Kasiguncu Poso, lalu dia memperkenalkan dirinya. Pak Imanuel J.Tamboyang, pegawai Dinas Pariwisata yang ditugaskan untuk menjemput saya dan mengantar ke Desa Kalora, lokasi Festival Kawaninya untuk menyambut Gerhana Matahari Total. Kami mengobrol sebentar, sambil berjalan menuju mobil. “Hey bang..!” seorang lelaki berbaju kuning sambil melambaikan tangannya, sekitar 3 meter di sebelah kiri baliho festival gerhana matahari. Namanya Arfik, seorang teman yang saya kenal bulan November tahun lalu ketika memotret Festival Sekolah Perempuan di Institut Mosintuwu di Tentena. Saya memang janjian bertemu di bandara, dan mengajaknya pergi ke Desa Kalora bersama dengan Pak Imanuel.

MENUJU DESA KALORA

Kami bergegas meninggalkan Bandara Kasiguncu, menuju ke Desa Kalora untuk survey lokasi festival Gerhana Matahari Total. Perjalanan menuju Desa Kalora memakan waktu sekitar 1 jam. Pak Immanuel menceritakan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada saat festival nanti. Dia juga menceritakan potensi-potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Poso. Sesekali kami juga membicarakan tentang Santoso dan beberapa kejadian (yang diduga) terorisme di Poso. Sementara Arfik sibuk membersihkan kamera dan lensanya di kursi belakang.

Ini adalah kali kedua saya ke Poso. Pertama kali ke Poso bulan November tahun lalu, saya diundang oleh teman saya Lian Gogali, pendiri Institut Mosintuwu, untuk mengajar fotografi pada acara Festival Sekolah Perempuan di Tentena. Lian Gogali merupakan seorang aktivis perempuan yang bertekad membangun semangat perempuan-perempuan Poso, mengubah dari trauma ketakutan akibat konflik horisontal di Poso, menjadi sebuah kekuatan. Dia menggagas sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik Poso, bagaimana perempuan bisa terlibat aktif dalam pembangunan desa. Institut Mosintuwu terletak di Tentena, di tepi Danau Poso. Hingga saat ini, Institut Mosintuwu sudah mewisuda ratusan perempuan di 70 desa yang tersebar Kabupaten Poso dan Morowali. Dari pengalaman pertama itulah saya meyakini bahwa Poso memang aman, damai dan ramah. Tidak seseram yang diberitakan di media.

Poster Festival Kawaninya
Poster Festival Kawaninya

Bulan lalu Lian Gogali menelpon untuk mengajak saya mendokumentasikan Festival Gerhana Matahari Total di Desa Kalora dan memberikan workshop fotografi untuk pemuda-pemudi desa tersebut. Institut Mosintuwu bekerjasama dengan Pemda Poso dan Lembaga Observatorium BOSSCHA ITB mengadakan FestivaGerhana Matahari Total di Desa Kalora pada 8-9 Maret 2016. Mereka menamai festival ini dengan Festival Kawaninya, diambil dari bahasa Pamona yang berarti gelap total atau kegelapan. Berdasarkan penelitian lembaga observatorium BOSSCHA ITB dan Institut Mosintuwu, Desa Kalora Poso merupakan daerah terlama yang merasakan fenomena GMT, yakni 2 menit 52 detik.

GOTONG ROYONG

Desa Kalora terletak di Poso Pesisir Utara, dilewati jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Kabupaten Poso dengan Kota Palu, pusat pemerintahan Sulawesi Tengah. Di sebelah timur desa membentang panjang pantai yang indah dengan beberapa kampung nelayan. Sebelah baratnya terdapat pegunungan biru yang membentang dari utara ke selatan, gunung yang konon katanya adalah tempat pelarian kelompok teroris Santoso yang sedang dikejar oleh militer. Desa Kalora adalah salah satu zona waspada, yang hampir tiap hari dilintasi oleh polisi dan militer yang berjaga dengan senjata laras panjang. Keberadaan polisi dan militer ini yang sebenarnya justru membuat warga kurang nyaman, waswas dan merasa kurang aman.

Ketika sampai di Desa Kalora, warga tampak sedang bersiap. Mereka gotong royong membersihkan jalan dan membuat bale-bale untuk pasar desa. Sementara di tengah lapangan ada seratusan anak-anak yang sedang latihan menari tarian kolosal Tari Maroso. Festifal Kawaninya dipusatkan di lapangan Desa Kalora, yang dikelilingi oleh perumahan warga. Di sebelah selatan terdapat 2 sekolah, yakni SMK dan SMP, yang dimanfaatkan untuk tempat beberapa workshop pada saat festival nanti.

Selama beberapa hari kemudian, saya mengikuti proses persiapan mereka. Semua persiapan Festival Kawaninya ini memang dipercayakan kepada warga. Selama berminggu-minggu mereka bergotong royong, bahu membahu, berpadu menyiapkan yang terbaik untuk menyambut para tamu yang akan berkunjung menikmati fenomena yang terjadi sekali dalam 350 tahun ini.

Warga Desa Kalora gotong royong membuat stand untuk pasar rakyat.
Warga Desa Kalora Gotong Royong membuat stand untuk pasar rakyat.
Lian Gogali dari Institut Mosintuwu sedang mensosialisasikan tentang konsep festival kepada warga Desa Kalora.
Lian Gogali dari Institut Mosintuwu sedang mensosialisasikan tentang konsep festival kepada warga Desa Kalora.
Warga sedang mempelajari metode obscura atau pinhole dalam mengamati gerhana matahari, yang difasilitasi oleh tim dari BOSSCHA ITB.
Warga sedang mempelajari metode obscura atau pinhole dalam mengamati gerhana matahari, yang difasilitasi oleh tim dari BOSSCHA ITB.

Institut Mosintuwu sebagai fasilitator memberikan arahan tentang konsep bagaimana festival ini nanti berjalan. Selain itu, juga memberikan sosialisasi tentang bagaimana mempersiapkan homestay yang tepat untuk para tamu nanti, sederhana tapi bersih. Warga kemudian menyiapkan 100 rumah untuk homestay, lengkap dengan peta buatan tangan mereka.

Sementara 20 peneliti dari lembaga observatorium BOSSCHA ITB menyiapkan berbagai peralatan untuk melihat proses gerhana matahari nanti. Mereka juga memberikan sosialisasi tentang bagaimana cara yang benar menyaksikan proses gerhana matahari, yaitu dengan menggunakan kacamata matahari, teropong dan beberapa media atau metode lainnya.

PESTA DESA

Sehari sebelum moment gerhana matahari total, Festival Kawaninya dibuka oleh Bupati Poso Darmin Agustinus Sigilipu. Festival ini dibuka dengan tarian kolosal Tari Maroso yang bertajuk ‘Wengi Rieo’, yang berarti gelap di waktu siang. Tarian ini dibawakan dengan sempurna oleh seratusan anak-anak Desa Kalora dan sekitarnya sambil membunyikan padengko (alat musik tetabuhan dari bamboo & kayu).   “Tarian ‘Wengi Rieo’ ini menyatukan anak-anak lintas agama dan suku. Mereka menari bersama sebagai simbol toleransi dan persatuan”, kata Pak Putera Botilangi, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Poso.

Anak-anak Desa Kalora sedang menari Tari Maroso yang bertajuk ‘Wengi Rieo’, yang berarti gelap di waktu siang.
Anak-anak Desa Kalora sedang menari Tari Maroso yang bertajuk ‘Wengi Rieo’, yang berarti gelap di waktu siang.
Anak-anak Desa Kalora membunyikan padengko mengiringi Tarian Maroso.
Anak-anak Desa Kalora membunyikan padengko mengiringi Tarian Maroso.
Suasana Pasar Desa, terdapat dua puluhan stand yang menjual aneka ragam kuliner khas Desa Kalora dan produk-produk kreatif karya ibu-ibu PKK.
Suasana Pasar Desa, terdapat dua puluhan stand yang menjual aneka ragam kuliner khas Desa Kalora dan produk-produk kreatif karya ibu-ibu PKK.

Pada Festival Kawaninya ini, warga Desa Kalora menyiapkan aneka ragam kuliner khas Desa Kalora dan sekitarnya. Disela-sela memotret, saya sempatkan untuk mencicipi beberapa makanan. Selain itu juga ada aneka buah-buahan hasil bumi seperti langsat, rambutan dan durian. Terdapat dua puluhan stand bambu yang dibuat sendiri oleh warga. Yang menarik, ada stand yang menjual produk-produk kreatif karya ibu-ibu PKK berupa tas yang dibuat dari barang bekas seperti kemasan teh gelas dan lain-lain. Desainnya bagus dan unik, tidak kalah dengan tas yang dijual di pasar pada umumnya. Tampak banyak sekali pengunjung yang antusias dengan pasar desa ini.

Pengunjung juga bisa melihat pameran astronomi yang disediakan oleh Lembaga Observatorium Bosscha ITB. Untuk anak-anak, bisa belajar tentang astronomi dengan mengikuti permainan ular tangga astronomi, membuat roket air dan dongeng alam semesta yang dibawakan oleh Kak Aio dari Ayo Dongeng Indonesia. Dari obrolan dengan Kak Aio, ternyata banyak dongeng dan cerita rakyat yang berisi tentang astronomi, sayangnya belum banyak yang berhasil diarsipkan.

Malam harinya, Tim Bosscha ITB mengajak warga untuk menyaksikan bintang dengan menggunakan beberapa alat pengamatan dalam acara Pesta Bintang. Ratusan warga dan pengunjung tampak mengantri panjang dari tengah lapangan hingga ujung barat, tempat 5 teropong berada. Semua lampu di sekitar lapangan dimatikan, sehingga dengan mata telanjangpun kita bisa melihat jutaan bintang di langit yang sangat indah.

Warga Desa Kalora sedang mengamati bintang dengan menggunakan teropong, yang difasilitasi oleh Tim BOSSCHA ITB
Warga Desa Kalora sedang mengamati bintang dengan menggunakan teropong, yang difasilitasi oleh Tim BOSSCHA ITB.
Ratusan warga Desa Kalora sedang mengamati bintang dengan menggunakan teropong, yang difasilitasi oleh Tim BOSSCHA ITB.
Ratusan warga Desa Kalora sedang mengamati bintang dengan menggunakan teropong, yang difasilitasi oleh Tim BOSSCHA ITB.

GERHANA MATAHARI TOTAL

Pukul 4 pagi saya sudah bangun dan menyiapkan peralatan fotografi untuk mendokumentasikan festival gerhana matahari ini. Setelah mandi, saya segera ke pantai yang berjarak sekitar 400m dari homestay yang saya tempati di sebelah timur lapangan. Beberapa hari di desa ini, tiap pagi memang sengaja menemui nelayan di pantai untuk menanyakan prakiraan cuaca hari ini. Karena menurut saya pengamatan nelayan lebih akurat dari mesin pendeteksi cuaca, hehehe. Dan bahagia sekali ketika nelayan bilang bahwa pagi ini cuaca sangat cerah, tidak seperti kemarin yang mendung, sehingga besar kemungkinan fenomena gerhana matahari tidak tertutup awan dan bisa dinikmati dengan baik.

Pukul 6 pagi Lapangan Desa Kalora sudah penuh dengan ribuan orang, warga sekitar Poso dan dari berbagai daerah di Indonesia, serta wisawatan mancanegara. 5000 kacamata matahari yang disediakan penyelenggara sudah ludes, bahkan banyak yang masih belum mendapatkannya. Lian Gogali melalui pengeras suara mengajak masyarakat untuk saling berbagi, saling bergantian menggunakan kacamata. Selain itu, 20 peneliti dari Bosscha ITB juga menyiapkan berbagai fasilitas alat pengamatan gerhana matahari total, seperti teropong, vennuscope, kotak lubang jarum raksasa dan beberapa alat lainnya, yang bisa dinikmati oleh masyarakat secara bergantian. Meskipun sangat ramai, namun masyarakat tetap tertib.

Ribuan warga berdatangan dan memadati lapangan Desa Kalora.
Ribuan warga berdatangan dan memadati lapangan Desa Kalora.
Warga mengamati proses gerhana matahari dengan menggunakan kacamata matahari.
Warga mengamati proses gerhana matahari dengan menggunakan kacamata matahari.
Seketika, ribuan orang itu hening, tepat ketika bulan menutup matahari dengan sempurna.
Ribuan orang menikmati moment gerhana matahari total di lapangan Desa Kalora.

Seketika, ribuan orang itu hening, tepat ketika bulan menutup matahari dengan sempurna. Semua mata tertuju pada lingkaran hitam yang dikelilingi cahaya putih di langit yang menggelap selama hampir 3 menit. Suhu yang tadinya panas, menjadi dingin seperti saat senja menjelang malam. Sesaat kemudian kembali gaduh, semua orang merayakan kegembiraan  menjadi saksi fenomena GMT yang terjadi sekali dalam 350 tahun di desa ini. Warga membunyikan padengko,  yakni suatu tradisi warga saat gerhana datang membunyikan tetabuhan, yang konon untuk mengusir raksasa yang mau memakan matahari.

Moment puncak gerhana matahari total. Berdasarkan penelitian lembaga observatorium BOSSCHA ITB dan Institut Mosintuwu, Desa Kalora Poso merupakan daerah terlama yang merasakan fenomena GMT, yakni 2 menit 52 detik.
Moment puncak gerhana matahari total. Berdasarkan penelitian lembaga observatorium BOSSCHA ITB dan Institut Mosintuwu, Desa Kalora Poso merupakan daerah terlama yang merasakan fenomena GMT, yakni 2 menit 52 detik.
Proses Gerhana Matahari Total.
Proses Gerhana Matahari Total.

PESAN PERDAMAIAN

Pada Festival Kawaninya ini warga ingin membuktikan bahwa Poso itu aman, tidak seperti yang diberitakan di media massa nasional. Ribuan orang telah datang ke desa ini tanpa rasa takut, tanpa waswas dan nyaman menikmati beragam kegiatan festival kawaninya. Mereka bahkan menginap di 100 rumah warga yang disiapkan sebagai homestay. Tak ada konflik antar suku, agama dan ras. Semua saling membantu, saling bergotong royong untuk menyiapkan gawe yang besar ini, untuk menyambut tamu-tamu yang mereka anggap sebagai saudara. “Kami sangat senang ribuan tamu yang datang dengan damai dan nyaman. Kami ingin membuktikan bahwa Poso itu aman, tidak ada konflik, tidak ada perbedaan, semua adalah saudara”, kata Ibu Nurlaela, Sekdes Kalora saat saya berpamitan untuk pulang ke Bali.


*Narasi oleh Vifick  //  Foto oleh Tim dokumentasi Festival Kawaninya (Vifick, Arfik, Acca dan Andi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!