Ritual 1 Suro Gunung Kawi

Memperingati Tahun baru Islam (Hijriyah) Warga di Desa Wonosari, lereng Gunung Kawi Kabupaten Malang, mempunyai tradisi yang unik, yakni Tradisi Suroan. Tradisi yang digelar tiap tanggal 1 Muharram atau 1 Suro ini diisi dengan beberapa kegiatan, antara lain kirab saji (sesajen) dan parade budaya, berbagai kegiatan kesenian, serta tabur bunga di makam Gunung Kawi dan lain-lain. Peserta kirab saji dan parade budaya adalah warga Desa Wonosari dan beberapa desa sekitarnya. Mereka menampilkan beraneka ragam patung dan sesaji yang berupa hasil pertanian dan perkebunan di lereng Gunung Kawi seperti padi, ketela, buah-buahan dan lain-lain.

Kirab saji dan parade budaya dibagi menjadi beberapa kelompok, yakni dibagi per-RW. Warga memadati lapangan sejak pagi, walaupun acara baru dimulai jam 3 sore. Bermula dari lapangan parkir, kirab saji dan parade budaya berjalan ke dalam kampung, diarak melewati 3 pintu gerbang menuju makam Eyang Djugo & Iman Sudjono. Di komplek makam itu dilakukan doa & tahlil bersama. Kemudian sesajen itu dimakan oleh warga secara bersama-sama.

Eyang Djugo dan Iman Sudjono adalah tokoh besar yang dahulu membuka lahan hutan di lereng Gunung Kawi. Beliau adalah ulama yang mengajarkan agama dan adat istiadat, serta memimpin perjuangan melawan penjajahan Belanda di masa itu. Beliau juga dikenal sebagai tokoh pluralisme yang menjembatani hubungan antara orang Jawa dan Tionghoa, menjadi guru spiritual bagi mereka. Oleh karena itu orang-orang Tionghoa membangun Klenteng di depan kompleks makam Eyang Djugo dan Iman Sudjono, bersebelahan dengan masjid. Hingga kini hubungan antar etnis dan beda keyakinan itu masih harmonis dan saling bergotong royong

Selain kirap saji, pada parade budaya tersebut juga terdapat Sangkala (ogoh-ogoh) yang merupakan simbol ke-angkaramurka-an di muka bumi ini. Sangkakala itu diarak di bagian paling belakang yang kemudian dibakar di halaman klenteng yang terletak di depan kompleks makam Eyang Djugo & Iman Sudjono, setelah warga tahlil, doa dan makan bersama.

Masyarakat sangat antusias dan bergotong royong melaksanakan tradisi yang dilaksanakan setahun sekali ini. Mereka berharap Desa Wonosari dapat hidup secara damai, tentram dan terbebas dari dari sangkakala (cobaan). Di samping itu, tradisi ini diharapkan bisa meningkatkan geliat wisata di kompleks pariwisata ritual Gunung Kawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!