Melali ke pasar

Pagi itu (15/3) kami berkumpul di Cushcush Gallery, 17 orang terpilih program #DenPasar2017 diberi pembekalan sebelum melali bareng ke pasar tradisional yang ada di Denpasar. Bli Marlowe Bandem mengajak kami ‘jalan-jalan’ ke pasar tradisional Bali pada tahun 1928 melalui slide show foto-foto arsip Bali tempo dulu. “Bali adalah pasar, kita semua ada karena pasar. Kita semua datang untuk terlibat, berinteraksi, bertukar gagasan, dan saling berproses kreatif membentuk kultur pasar dari masa lampau hingga masa kini.”
Sementara Kang Ayip Budiman mengajak kami untuk menemu-kenali identitas Denpasar melalui pasar tradisional. Melalui materi presentasi berjudul “Sense of place and iconography” Kang Ayip mengajak kami ‘jalan-jalan’ ke Amsterdam, India dan Singapore untuk membaca keberhasilan mereka dalam membuat ikon-ikon yang berujung pada terbentuknya sense of place.
Hmm, dua bekal yang lebih dari cukup untuk menjelajahi pasar-pasar tradisional hari itu bersama teman-teman.

BAHASA PASAR

Kunjungan pertama adalah ke Pasar Seni Kumbasari, letaknya di samping puing-puing Pasar Badung yang terbakar tahun lalu. Menjelajahi Pasar Kumbasari, kami menemukan banyak sekali produk-produk kreatif yang dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Bali. Ya, khas Bali, walaupun ada beberapa produk yang saya kenali berasal dari Lombok, Jawa dan Sumatra.
Kemudian mata saya tertuju pada topeng barong kecil, souvenir ini sering saya jumpai di pasar-pasar seni di Bali dan tempat-tempat belanja oleh-oleh. Banyak wisatawan asing dan domestik yang memilih topeng barong kecil ini sebagai cindera mata. Dan kemudian sayapun membelinya.
Ide berikutnya, topeng barong kecil ini saya foto di berbagai barang yang dijual di pasar-pasar yang kami kunjungi; Pasar Kumbasari, Pasar Burung Veteran, Pasar Bunga dan Pasar Kreneng. Dengan memposisikan diri sebagai ‘buyer’, aktifitas saya ini sebenarnya adalah sebuah aksi ‘performance art’ untuk melabeli semua dagangan itu sebagai ‘khas Bali’. Dan aktifitas ini juga yang membuat saya bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan banyak orang di pasar, tak hanya pedagang, tapi juga pengunjung. Banyak obrolan yang menarik, banyak bahan yang bisa digali untuk belajar menemu-kenali bahasa pasar.

APA YANG KAMU CARI DI PASAR?

W : Tyang disuruh ibu beli canang dan dupa
T : Saya mau cari ikan, tomat dan sayur-sayuran lain, mau masak sup ikan buat suami
M : Saya mau cari janur buat bikin penjor
Y : Cari babi guling, hehehe
K : Cari pisang dan jeruk
B : Tempe, ceker ayam, cabe, garam dan kacang panjang
H : Mau cari kopi mas, ngantuk abis kerja seharian
I : Ga ada, cuma mau jalan-jalan aja, cari foto buat diposting di instagram
P : Mau jenguk istri, yang jualan jaje laklak di samping toko sepeda itu
N : telor!
L : Mau cari oleh-oleh bli, yang khas Bali, buat teman-teman kantor di Jakarta
E : Saya yang jualan pulsa di toko warna kuning itu. Mas mau isi pulsa?
A : Mau nongkrong aja sih sama teman-teman.

Tentang pasar, banyak sekali cerita yang bisa digali. Pasar adalah tempat untuk mencari dan melakukan banyak hal. Semua ada, ya, semua ada di pasar. Kalimat-kalimat di atas beberapa contoh apa yang kita temui di pasar. Dalam konteks budaya Bali, sebagai sentra perdagangan pasar mencerminkan kosmologi hidup berdampingan dalam perbedaan, penuh dinamika tradisi dan modernitas. Keberadaan pasar tradisional merupakan sebuah penanda atau identitas penting bagi Denpasar, juga kota-kota lain di Bali. Pasar tradisional memiliki makna yang lebih luas sebagai lokalitas ide, pemikiran dan gagasan yang kemudian membentuk dan mencitrakan gaya hidup masyarakat Bali dari masa lalu hingga kini.
Rangkuman cerita tentang pasar ini saya visualisasikan dalam karya berjudul SEKRENENG PASAR.
Temukan karya SEKRENENG PASAR di Pameran Seni Rupa “DenPasar 2017” di Cushcush Gallery, Jl Teuku Umar Gang Rajawali 1A Denpasar Bali. Pameran berlangsung pada tanggal 26 Mei – 26 Agustus 2017. Sampai jumpa di pasar!

Info selengkapnya : cushcushgallery.com (0361) 242034. Instagram : @cushcushgallery

Temukan karya “SEKRENENG PASAR” Di Cushcush Gallery

2 thoughts on “Melali ke pasar

  • Dear Vifick,
    I’m Indra from CushCush gallery (Jl. teuku umar – Bali).

    We need your article using theme : Melali ke Pasar.
    In word file and for the images also. We will lay out it in pdf file and then we will print out and filling.
    This is for our reference and filing only for CCG. Especially for DenPasar 2017 last event .

    Looking forward for your prompt reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!