Pelebon Puri Sidemen

Kelindan budaya warga Hindu dan Muslim ketika upacara penyucian roh tiba. 

Suara rebana menggema di depan Puri Sidemen pada pertengahan Agustus. Kemeriahan itu mengiringi tarian rudat yang dibawakan dengan gagah oleh belasan pemuda Muslim Desa Sindu, Sidemen, Kabupten Karangasem, Bali.  “Upacara Pelebon Sawa Rsi Tjokorda Gede,” demikian keluarga menyebutnya. Ningrat setempat yang bernama Tjokorda Gede Raka wafat pada April silam. Jenazahnya sudah dikremasi sampai menjadi tulang, supaya bisa diaben pada suatu hari baik. Kemeriahan ini merupakan upacara terakhir untuk menyucikan rohnya. Sorak-sorai masyarakat bergema ketika tulang-tulang Tjokorda Gede Raka diangkat keluar dari gerbang Puri Sidemen untuk diletakkan di atas wadah, kendaraan untuk membawa jenazah menuju kuburan. Wadah ditarik dengan kain putih oleh keluarga. Berbagai sesaji upacara pelebon beriring-iringan hingga satu kilometer.

Tarian rudat dan hadrah sudah biasa meramaikan upacara-upacara adat Bali. Begitu juga ketika hari besar Islam, warga Hindu juga turut membantu dalam persiapannya. Dalam Sekeha Subak, para petani Hindu membagi aliran air secara adil dari Subak hulu hingga hilir, termasuk pasokan air untuk masjid. Hubungan kekerabatan antara Hindu dan Islam di Sidemen terjalin sejak abad ke-16. Setelah terpecahnya Kerajaan Gelgel, Kerajaan Karangasem berhasil menaklukkan Lombok. Raja mengambil orang-orang bertuah asal Lombok sebagai pasukan pertahanan di Karangasem. Salah satu leluhur Puri Sidemen, Ida Dewa Agung Dangin Sasak, ikut menyerbu Lombok. Dia kembali bersama kaum Brahmana dengan membawa pajak tatadan, yakni Muslim Sasak. Sejak itu, keluarga Puri Sidemen serta kaum Brahmana menikahi putri-putri Muslim Sasak sebagai istri. Kelak, para bangsawan itu mengawali pembangunan masjid dan memberikan bedug.

“Tradisi ini memang sudah dijalankan secara turun temurun. Tiap kali ada upacara adat seperti kematian, potong gigi, atau piodalan desa, selalu melibatkan warga Muslim,” ujar Cok Sawitri, putri mendiang yang juga budayawan Bali.

Prosesi terakhir, menghanyutkan abu jenazah ke Sungai Unda yang berjarak sekitar tiga kilometer dari setra.

Jenazah Tjokorda Gede Raka melewati pemedal, atau gerbang, Puri Sidemen untuk diberangkatkan ke setra atau kuburan.
Masyarakat menikmati pertunjukan Legong Keraton dan tari-tarian sakral lainnya sebagai ritual pengiring Upacara Ngaben atau Pelebon, sembari menunggu prosesi persembahyangan di dalam puri. Setelah itu barulah jenazah diberangkatkan ke kuburan.
Sorak-sorai masyarakat ketika meletakkan jenazah Tjokorda Gede Raka—yang sudah dikremasi hingga tersisa tulang-tulangnya—pada wadah, yakni kendaraan atau tempat yang dipergunakan untuk membawa jenazah menuju setra (kuburan). Wadah diangkat secara bergantian oleh masyarakat. Di atas wadah terdapat seorang lelaki memegang burung cendrawasih yang berfungsi untuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam perjalanan roh menuju sunialoka.
Warga Sidemen menggotong petulangan berbentuk lembu sebagai tempat membakar jenazah sekaligus pengantar ke alam roh.
Alunan beleganjur dan angklung mengiringi prosesi Upacara Pelebon Sawa Rsi Tjokorda Gede, bersahutan dengan tetabuhan rebana.
Antusiasme warga mengantarkan jenazah menuju setra atau kuburan untuk proses pengabenan.
Warga Muslim Sidemen menyambut kedatangan jenazah dengan rebana dan tarian rudat di depan setra. Sebagian pengiring turut menari. Ritual turun temurun ini sebagai simbol toleransi dan kekerabatan antara warga Hindu Bali dan warga Muslim Sasak.
Salah satu rangkaian dalam Pelebon, ketika tulang-tulang Tjokorda Gede Raka diturunkan dari wadah untuk dipindahkan ke petulangan. Setelah masuk dalam petulangan, jenazah siap untuk diaben. Petulangan adalah tempat membakar jenazah, yang secara spiritual berfungsi sebagai pengantar ke alam roh sesuai dengan hasil perbuatan di dunia.
Keluarga besar dan anak-cucu Tjokorda Gede Raka memberikan penghormatan terakhir, sebelum upacara pembakaran menuju alam roh. Tampak tulang mendiang yang telah dikremasi supaya bisa diaben pada Upacara Pelebon ini.
Prosesi pembakaran jenazah yang diletakkan pada petulangan berbentuk lembu.
Prosesi pembakaran jenazah yang diletakkan pada petulangan berbentuk lembu.
Upacara Nuduk Galih, ketika keluarga besar mengumpulkan sisa-sisa tulang dan abu jenazah usai pembakaran. Setelah terkumpul, semuanya dilarung ke sungai oleh anak-anak lelaki Tjokorda.
Abu yang telah dikumpulkan kemudian didoakan dan keluarga memberikan sesaji-sesaji, sebelum dibawa ke Sungai Unda untuk dilarung.
Warga mengantarkan jenazah ke Sungai Unda yang berjarak 3 km dari setra, untuk dilarung.
Prosesi terakhir, menghanyutkan abu jenazah ke Sungai Unda.

***

Editor : Mahandis Yoanata Thamrin

Photo story ini dimuat di Majalah National Gerographic Traveller Indonesia Edisi Oktober 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!